Jumat, 09 Maret 2012

ARTIKEL : Kenali, Cintai dan Bangkitkan Gairah Kesenian Ketoprak


Kenali, Cintai
dan Bangkitkan Gairah Kesenian Ketoprak

Apa yang terlintas dipikiran kita jika ada orang yang bertanya “Ketoprak itu apa sih”? apakah kita akan menjawab “itukan nama makanan” atau menjawab “Ketoprak ya semacam OVJ-lah kalau jaman sekarang”. Yah, mungkin itu yang akan langsung terlintas dibenak kita tapi pernahkan kita berfikir dan mencari tahu “apa sih Ketoprak itu sebenarnya?”
Banyak masyarakat yang tidak mengenal ketoprak, yang kita tahu ketoprak itu semacam drama yang dipentaskan, just it! Hal semacam ini bisa terjadi karena keberadaan ketoprak sendiri saat ini sudah mulai terpinggirkan karena derasnya arus globalisasi dan modernisasi sehingga membuat kita hidup dengan gaya kebarat-baratan (westernisasi) mulai dari cara berpakaian, cara berbicara, cara bergaul dengan orang lain. Semua itu berkedok ‘ini lho yang namanya modern” dan gaya hidup yang demikian mempengaruhi semua aspek kehidupan masyarakat kita yang sudah mulai menanggalkan kearifan lokal bangsa kita dan perlahan-lahan masyarakat kita pun mulai meninggalkan kebudayaan bangsa kita sendiri, tak terkecuali ketoprak.
Betapa mirisnya menemui kenyataan yang demikian. Ketoprak sebuah kesenian rakyat yang sekarang sudah mulai tidak dikenal lagi oleh rakyatnya sendiri. Dari hal tersebut sudah dapat kita ketahui bahwa pelestariannyapun tentu tidak digalakan. Hanya beberapa kelompok masyarakat saja yang masih melestarikannya, bagaimana bisa suatu kesenian dapat bertahan hidup jika tidak mendapat dukungan dari penikmatnya?. Kita sebagai generasi muda hendaknya mengetahui dan melestarikan keberadaan ketoprak ditengah-tengah arus global yang semakin mengikis kebudayaan bangsa kita. Berangkat dari keprihatinan diatas mari kita cari tahu “apa sih ketoprak itu?”


Sejarah Ketoprak
Ketoprak adalah teater rakyat yang paling populer di Jawa. Ketoprak sejenis seni pentas yang berasal dari Jawa. Dalam sebuah pentasan ketoprak, sandiwara yang diselingi dengan lagu-lagu Jawa, yang diiringi dengan gamelan disajikan. Pada mulanya ketropak hanya hiburan orang Jawa yang memainkan lesung pada malam bulan purnama sebagai sarana menghibur diri dan bercengkrama dengan sesama memanfaatkan terangnya sinar bulan purnama diluar rumah. Suara tabuhan lesung mulanya hanya sebagai pengiring lagu dolanan, namun kemudian dimasukkan unsur cerita didalamnya sehingga terbentuklah sebuah teater sederhana yang kemudian berkembang dengan bersumber dari cerita-cerita Jawa seperti Babad Tanah Jawa, cerita-cerita legenda bahkan mengadopsi cerita-cerita populer luar negeri. Beberapa lakon ketoprak yang terkenal diantaranya Ande-Ande Lumut, Anglingdarma, Damarwulan dan sebagainya.

Ketoprak Mulai Tenggelam
Derasnya arus globalisasi dan modernisasi yang menjadikan kita bergaya hidup westernisasi membuat ketoprak perlahan-lahan mulai tenggelam. Banyak dari kita merasa malu untuk mempelajari ketoprak, menonton ketoprak dan melestarikannya. Karena hal itu dianggap “jadul ah, ketinggalan jaman”. Yang demikian akhirnya menjadikan ketoprak dan kesenian daerah lainnya sudah mulai terpinggirkan.
Seperti siaran di radio yang menyajikan ketoprak, sudah tidak banyak lagi pendengarnya dan lagi di radio pun menyajikan siaran ketoprak hanya sebulan sekali. Jangankan radio, generasi muda jaman sekarang lebih memilih menonton TV daripada menonton ketoprak secara langsung, TV satu bisa memilih beberapa acara yang disukai, sedangkan menonton ketoprak dianggap membosankan dan sudah ketinggalan jaman. Keberadaan ketoprak pun sudah mulai tergeser dengan hal-hal yang bersifat modern. Di TV kalaupun ada tayangan ketoprak, penontonnya sangat sedikit dibandingkan dengan acara musik jaman sekarang, sinetron dan serial-serial TV dari luar negeri seperti Hollywood, Bollywood, serial film Korea, Jepang dan masih banyak lagi acara TV yang mengesampingkan kesenian dan kebudayaan milik kita sendiri.
 Sungguh kenyataan yang membuat miris, seakan tidak ada lagi generasi muda yang peduli terhadap keberadaan kesenian dan kebudayaan Indonesia, dimana mereka lebih bangga dengan menyukai dan meniru budaya dan kesenian negara lain dibandingkan dengan identitas negaranya sendiri.

Ketoprak dan Masalah yang Membelitnya
Tenggelamnya kesenian ketoprak disebabkan oleh banyak hal. Yang pertama dari pihak penggiatnya sendiri, penggiat ketoprak yang jumlahnya terbatas kesulitan dalam menginovasi ketoprak supaya tetap disukai masyarakat seperti pada masa kejayaannya. Sehingga ketoprak hanya jalan ditempat bahkan mengalami kemunduran. Kurangnya sosialisasi tentang ketoprak, kurangnya greget para penggiat dalam memperkenalkan ketoprak kepada semua lapisan masyarakat.
Penyebab kedua yaitu berkaitan dengan sebab sebelumnya, dengan kurangnya inovasi, sosialisasi dan greget dalam memperkenalkan ketoprak kepada masyarakat, menyebabkan masyarakat kurang meminati kesenian ketoprak, jangankan untuk menjadi penggiat ketoprak, hanya sekedar menonton pertunjukan ketoprak saja masyarakat masa kini sudah tidak berminat sama sekali. Hal-hal demikianlah yang menyebabkan ketoprak kalah bersaing dan tidak bertahan dengan derasnya arus hiburan modern dewasa ini.
Angkat Ketoprak ke Permukaan
 Kita tidak bisa berdiam diri terlalu lama, jika kita hanya pasrah dengan keadaan yang menenggelamkan ketoprak dan kesenian daerah lainnya maka bukan tidak mungkin peninggalan kebudayaan nenek moyang kita ini akan benar-benar mati. Apakah kita hanya akan berpangku tangan dan meratapi detik-detik kematian ketoprak dan kesenian tradisional lainnya? Jika kita hanya menunggu dan berharap bantuan dan campur tangan pemerintah, maka kita tidak akan mendapat apa-apa. Pemerintah hanya berkonsentrasi membangun industri-industri, perekonomian dengan menganaktirikan kesenian dan kebudayaan, yang tanpa kita sadari sebenarnya kesenian dan kebudayaan itu mahal harganya dan merupakan warisan nenek moyang kita yang luhur serta patut dilestarikan agar anak cucu kita nanti masih mengenal dan mau melanjutkan melestarikan ketoprak dan kesenian tradisional lainnya. Kita yang memiliki, hendaknya kita yang melestarikan, jangan sampai kebudayaan dan kesenian milik kita diklaim sebagai milik negara lain, pada saat itulah kita akan merasa kehilangan. Maka belum terlambat untuk kita menghidupkan kembali ketoprak tradisional sebagai kesenian, kebudayaan dan warisan nenek moyang yang sudah sepantasnya kita handarbeni lan nguri-nguri.


Banyak hal yang sebenarnya bisa kita lakukan, teknologi modern bisa kita kolaborasikan dengan ketoprak, misalnya dengan cara kita manfaatkan teknologi yang ada untuk mempercantik tata panggung saat pementasan ketoprak. Dan juga kita bisa menambahkan instrument-instrumen musik masa kini dalam mengiringi pementasa ketoprak. Sedangkan dari sisi media sosialisasi kita bisa memanfaatkan teknologi internet untuk memperkenalkan ketoprak kepada masyarakat luas, mengajak mereka untuk bersama-sama melestarikan kesenian dan kebudayaan kita, termasuk ketoprak. Dengan memaksimalkan secara positif teknologi yang berkembang saat ini, diharapkan kita dapat mengangkat kembali ketoprak kepermukaan agar tidak semakin tenggelam dan tergerus arus hiburan modern.

Bergeliat dan Bangkitlah Ketoprak!
Sudah saatnya ketoprak bergeliat dan bangkit kembali, sebelum semua benar-benar terlanjur, terlanjur tenggelam dimakan arus jaman atau terlanjur diklaim sebagai milik negara lain karena kita yang memiliki justru tidak memperdulikan dan tidak berusaha melestarikan. Jangan sampai menjadi sebuah penyesalan setelah kita kehilangan. Mari kita kenali, kita cintai, kita miliki dan kita lestarikan kesenian tradisional dan budaya Indonesia.
Bergeliatlah para penggiat ketoprak, bersemangatlah ciptakan inovasi yang menarik para penikmat seni, bergegaslah generasi muda selamatkan kesenian milik kita agar tetap bisa menjadi sebuah harta dan cerita yang bisa dilihat, didengar dan dinikmati anak cucu kita kedepannya.

RETORIKA JAWA "PIDATO MEMPERINGATI HARI PAHLAWAN"


Mengeti Dinten Pahlawan
Kanthi tema : Daya Pigunanipun Mengeti Dinten Pahlawan

Assalamualaikum Wr. Wb
Ingkang kula hurmati Bapak Ketua RT 03 Penirejo Matesih. Ingkang kula bekteni Bapak - bapak RT saha ibu-ibu PKK, sarta para rencang Karang Taruna ingkang sami kula tresnani. Minangka pambukaning atur, amrih becikipun sumangga kita sedaya tansah nggunjukaken raos puji dalasan syukur dhumateng ngarsanipun Gusti Allah ingkang maha kuwaos, awit saking rahmat, hidayah sarta inayahipun kita sedaya sanged makempal wonten ing Bale Dusun RT 03 RW 07 Penirejo Matesih mriki kanthi kahanan ingkang sae lan sehat mboten wonten kekirangan satunggal punapa.
Kita makempal ing wanci punika saperlu mengeti dinten pahlawan tanggal 10 Nopember 2011. Pahlawan inggih menika tiyang ingkang nggadhahi kathah pahala ing lelabetanipun. Semangat juang para pahlawan menika ingkang kedahipun kita tuladhani, semangat ingkang mboten nate kendhat ing kahanan maneka warna. Semangat juang para pahlawan ugi kedah dados motivasi kita sedaya supados kita saged dados pahlawan wonten ing gesang bebrayan kita, saking lingkup kaluwarga, sekolah, masyarakat nagara lan agama. Kita kedah ngulintenaken sipat ikhlas wonten ing bab menapa kemawon amargi pahlawan menika mboten nggadhahi pamrih tumrap pribadinipun.
Para rawuh ingkang winantun pakurmatan. Kanthi pengetan dinten pahlawan menika sumangga kita sedaya tansah nuladha watakipun para pahlawan ingkang mboten egois, ingkang ateges para pahlawan mboten mirikaken pribadinipun piyambak nanging para pahlawan kanthi rasa ikhlas lila nglawan penjajah supados sanget mardika negarinipun kangge gesangipun putra wayah ing tembe wingkingipun, pahlawan mboten peduli menapa kemawon ingkang dipunkorbanaken awit saking arta, garwa ngantos jiwa lan raganipun lila dipunkorbananken kangge ngrebut kamardikan. Kanthi semboyan kang nrenyuh manah “Merdeka atau Mati”, kanthi semboyan punika kita saged mangertosi lan ngraosaken semangat juangipun para pahlawan. Rasa tresnanipun marang sesami ketingal saking pengorbananipun kalawau, pahlawan tresna marang bangsanipun, tresna marang putra wayahipun pramila para pahlawan kekeh usahanipun ngrebut kamardikan.
Pahlawan menika mboten namung tiyang ingkang tumut nglawan penjajah. Pahlawan ingkang sami gugur ing medan laga sanalika ngrebut kamardikan, para pahlawan menika sampun wangsul dhateng ngarsanipun Gusti Allah, kita sedaya minangka putra-putri bangsa kedah sami ndedonga supados para pahlawan dipunsareaken wonten ing papan ingkang sae ing sisihipun Gusti Allah. Bilih pahlawan ingkang tasih gesang tuladhanipun kathah sanget, para petani menika ugi saged dipunwastani pahlawan amrih para petani kanthi rekasa kringet dleweran, nantang panase srengenge piyambakipun nandur pari ing sabin saperlu supados kita sedaya mboten kekirangan beras bahan pangan pokok. Lajeng tuladha lare ingkang dados pahlawan samenika wonten lare alit taksih SMP ingkang pinter sanged ngantos deweke sanged menang wonten ing olimpiade matematika wonten ing luwar negri, kanthi prestasi menika lare kasebat tansah damel bombonge manah tiyang sepahipun saha lare kasebat ugi mbombongake Negara Indonesia ing kancah internasional.
Seje lare seje malih kaliyan tumaruna, Negara kita menika kathah sanget pemuda lan pemudinipun, awit menika sampun samestinipun para taruna Indonesia sageda mbombongaken Negara amargi majengipun Negara gumantung wonten ing pundhakipun para taruna, dene ingkang saged dipunsebat pahlawan taruna tuladhanipun para muda-mudi Indonesia ingkang kala wingi sampun nglampahi SEA GAMES 2011 ingkang kaping 26, mapan ing Indonesia, para muda-mudi Indonesia mbombongaken sanged tumrap bangsa umumipun, amargi kathah ingkang sami angsal medali emas ingkang samangke ndadosaken Indonesia minangka juara umum ajang olahraga paling ageng wonten ing kawasan Asia Tenggara menika. Bilih tuladhanipun pahlawan wanita inggih menika R.A Kartini ingkang sampun nuntut wontenipun emansipasi wanita, wanita kedahipun saged sakdrajat kaliyan para priya, wait menika R.A Kartini dipunsebat pahlawanipun wanita.
Para rawuh ingkang bagya mulya. Kita tansah nyumerepi bilih para ibu saged ugi dipunsebat pahlawan, ibu menika sampun rekaos ngurus bale wisma, nggulawentah putra-putrinipun supados dados tiyang ingkang migunani tumrap bangsa nagara lan agama. Dene tuladhanipun pahlawan priya kathah sanget, saking pahlawan ing jaman perang ugi pahlawan wonten ing bale wisma inggih menika bapak, bapak menika ugi kasebat pahlawan amargi bapak menika tanggel jawabipun ageng sanged, pados nafkah kangge ragatipun putra-putrinipun sekolah lan kathah malih tugas awrat ingkang dados tanggel jawabipun bapak.
Para rawuh ingkang kula hurmati, masyarakat samenika sumerepipun bilih pahlawan inggih menika tiyang ingkang kala rumiyin tumut perang ngrebut kamardikan nglawan para penjajah. Pancen bab menika mboten klentu, ananging ing jaman samenika nagari kita Indonesia sampun mardika, lajeng menapa sampun mboten enten malih ingkang dipunsebat pahlawan? Tuladha ing nginggil kalawau ugi saged mangsuli pitaken menika. Pahlawan menika wonten ing babagan warni-warni, wonten ing pendhidhikan guru kasebat pahlawan tanpa tanda jasa, amargi guru menika nggulawentah murid-muridipun supados dados lare ingkang pinter kangge sangu gesangipun ing tembe wingking. Dipunwastani tanpa tanda jasa amargi ing panganggenipun guru mboten mawi tanda bintang utawi pangkat kadosdene polisi utawi tentara. Bilih ing babagan medis utawi kesehatan ingkang dipunsebat pahlawan menika dokter, piyambakipun sanged nambani pasien-pasienipun ingkang nandang lelara. Lan taksih kathah sanget tuladhanipun pahlawan ing babagan sanes-sanesipun
Para tamu kinurmatan, saben jaman, saben papan saben pakaryan mbetahaken pahlawan. tiyang ingkang kagungan watak kepahlawanan, kendhel, ikhlas tanpa pamrih. Mila mekaten kanthi pengetan dinten pahlawan punika mugi-mugi kita sedaya kasentak semangatipun supados dados pahlawan wonten ing papan ingkang kita enggeni, dados pahlawan wonten ing jaman ingkang kita lampahi lan ugi dados pahlawan wonten ing pakaryan kita sami.
Mekaten para rawuh bapak saha ibu ingkang kinurmatan, sarta para rencang ingkang bagya mulya, sakedhik ingkang saged kula aturaken. Mugi wonten paedahipun tumrap kita sedaya. Menyang Jepara tuku ketan, nyuwun pangapura sedaya kalepatan.
Wabillahi taufik wal hidayah, wa riddho wa innayah.
Wassalamualaikum Wr. Wb

ANALISIS WACANA “WACAN BOCAH KARYA SURTIKANTI” DARI ASPEK LEKSIKAL (KOLOKASI / SANDING KATA )

 ANALISIS WACANA “WACAN BOCAH KARYA SURTIKANTI”
DARI ASPEK LEKSIKAL (KOLOKASI / SANDING KATA )


           A. PENDAHULUAN

Bahasa hidup di dalam masyarakat dan dipakai oleh penuturnya untuk berkomunikasi. Kelangsungan hidup sebuah bahasa sangat dipengaruhi oleh dinamika yang terjadi dalam dan dialami penuturnya. Sebagai makluk sosial, dalam hidup bermasyarakat, manusia tidak akan terlepas dari peristiwa komunikasi. Alat komunikasi yang paling utama adalah bahasa, karena bahasa digunakan sebagai alat komunikasi sehari-hari. Bagi masyarakat tutur Jawa, bahasa Jawa merupakan sarana komunikasi yang digunakan untuk mengungkapkan dan mengemukakan segala sesuatu yang menjadi buah pikiran dan perasaannya.
Bahasa Jawa mempunyai kaidah pemakaian yang bersifat sistemis. Kaidah atau aturan itu merupakan suatu himpunan patokan yang berdasarkan struktur bahasa yang lebih dikenal dengan istilah tata bahasa. Tata bahasa terbagi dalam lima bagian, yaitu tata bunyi (fonologi), tata kalimat (sintaksis), tata bentuk (morfologi) dan semantik serta wacana. Sama halnya dengan alat komunikasi, wacana juga dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu wacana tulis dan wacana lisan. Yang termasuk wacana lisan bisa berupa ceramah, pidato, khotbah, siaran berita berbahasa Jawa, tembang bahasa Jawa seperti macapat, geguritan, dan karawitan. Wacana tulis dapat berupa surat kabar, majalah, buku-buku teks, koran, naskah kuno dan sebagainya.
Kepaduan wacana selain didukung oleh aspek gramatikal atau kohesi gramatikal juga didukung oleh aspek leksikal atau kohesi leksikal. Kohesi leksikal ialah hubungan antarunsur dalam wacana secara semantic. Dalam hal ini, untuk menghasilkan wacana yang padu pembicara atau penulis dapat menempuhnya dengan cara memilih kata-kata yang sesuai dengan isi kewacanaan yang dimaksud. Hubungan kohesif yang diciptakan atas dasar aspek leksikal, dengan pilihan kata yang serasi, menyatakan hubungan makna atau relasi semantik antara satuan lingual yang satu dengan satuan lingual yang lain dalam wacana.
Kohesi leksikal dalam wacana dapat dibedakan menjadi enam macam, yaitu (1) repetisi (pengulangan), (2) sinonimi (padan kata), (3) kolokasi (sanding kata), (4) hiponimi (hubungan atas bawah), (5) antonimi (lawan kata), dan (6) ekuivalensi (kesepadanan). Dari keenam penanda kohesi leksikal di atas, penelitian ini menekankan pada aspek leksikal kolokasi  (sanding kata) dalam Wacan Bocah dalam 8 edisi yang berbeda yang ditulis oleh Surtikanti yang dimuat dalam Majalah GENTA yang terbit setiap dua minggu.
Kolokasi atau sanding kata adalah asosiasi tertentu dalam menggunakan pilihan kata yang cenderung digunakan secara berdampingan. Kata-kata yang berkolokasi adalah kata-kata yang cenderung dipakai dalam suatu domain atau jaringan tertentu, misalnya dalam jaringan usaha ( pasar ) akan digunakan kata-kata yang berkaitan dengan permasalahan pasar dan partisipan yang berperan di dalam kegiatan tersebut. Kata-kata penjual, pembeli, jual, beli, dagangan, warung, kios, toko, rugi dan laba dipakai dalam jaringan pasar.

B. MENGAPA WACAN BOCAH DIPILIH?

Ada dua alasan mengapa Wacan Bocah terbitan majalah GENTA yang ditulis oleh Surtikanti dipilih sebagai objek kajian dalam penelitian ini. Alasan pertama adalah bahasa yang digunakan dalam wacan bocah ini mudah dipahami. Wacan Bocah memang ditulis sebagai referensi bacaan yang diperuntukan bagi anak-anak. Di dalamnya ditulis cerita pendek yang menyiratkan tauladan budi pekerti yang baik agar dicontoh oleh anak-anak yang membacanya. Karena merupakan Wacan Bocah, penulisan judulnya pun singkat, jelas dan sederhana. Dalam setiap judul dimuat 1 cerita dengan pilihan kata yang serasi dan sederhana serta mengandung unsur penanda kohesi leksikal yang berupa kolokasi atau sanding kata yang berhubungan dengan judul bacaan tersebut. Agaknya hal tersebut menjadi alasan yang kedua mengapa wacan Bocah dipilih sebagai objek kajian wacana dalam penelitian ini.
Referensi Wacan Bocah yang menjadi kajian dalam penelitian ini terdiri dari 8 edisi yang berbeda namun ditulis oleh satu pengarang yang sama yaitu Surtikanti. Wacan Bocah diambil dari GENTA edisi No. 134/Tahun VI/05-19 November 2009 yang berjudul Juara Kelas, GENTA edisi No. 149/Tahun VII/20 Juni - 04 Juli 2010 yang berjudul Ndaru Ora Bisa Basa, GENTA edisi No. 152/Tahun VII/05-19 Agustus 2010 yang berjudul Ipul Neng Endi?, GENTA edisi No. 150/Tahun VII/05 – 19 Juli 2010 yang berjudul Susure Mbah Dul, GENTA edisi No. 138/Tahun VI/5-19 Januari 2010 yang berjudul Golekan Kayu Randhu, GENTA edisi No. 139/Tahun VI/20 Januari -04 Februari 2010 yang berjudul Dondom Lumpang, GENTA edisi No. 146/Tahun VII/05-19 Mei 2010 yang berjudul Si Malin Kundang dan GENTA edisi No. 155/Tahun VII/20 September – 04 Oktober 2010 yang berjudul Artis Kethoprak.
Kedelapan edisi Wacan Bocah yang dipakai sebagai objek kajian wacana dalam penelitian ini memang sengaja tidak diambil dari delapan edisi yang berurutan namun memilih edisi Wacan Bocah yang ditulis oleh satu pengarang. Penelitian menekankan pada pilihan kata sederhana yang dipakai oleh pengarang yang mengandung penanda kohesi Leksikal berupa kolokasi atau sanding kata.

            C.    ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Kolokasi adalah asosiasi tertentu dalam menggunakan pilihan kata dan kata tersebut cenderung digunakan secara berdampingan (bersanding). Dalam wacana wacan bocah karya Surtikanti ini memang mayoritas bertema pendidikan karena dimuat dalam majalah GENTA yaitu salah satu majalah pendidikan, karena tema atau topik pembicaraannya mengenai pendidikan, maka pilihan kata-katanya pun (sebagian besar) adalah kata-kata yang mendukung isi cerita tersebut.
Data yang didiperolah dari kedelapan Wacan Bocah karya Surtikanti ini disajikan secara mendetail yang disertai dengan kata-kata yang berkolokasi. Dengan menganalisis satu persatu Wacan Bocah pada tiap edisi, data yang berupa kolokasi atau sanding kata disusun berdasarkan dengan jumlah kolokasi yang lebih dominan ke kolokasi yang kurang dominan. Berikut adalah data kata-kata yang berkolokasi yang terdapat pada masing-masing Wacan Bocah karya Surtikanti.


1.      GENTA Edisi No. 134/Tahun VI/05-19 November 2009 yang berjudul “Juara Kelas”
·         Domain pendidikan
Kolokasi : sekolahe, kelase, pelajaran, ulangan agama, biji, juara kelas, njaplak, nggarap, sinau, sregep, guru, ngrepek, pinter, juara kelas, juara siswa teladan.
·           Domain sifat
Kolokasi : nakal, nggrathil, rame, kuminter, pinter, ngisin-isini, anteng, lantip, sregep, wedi, bungah
·         Domain kekerabatan
Kolokasi : bapak, ibu, bulik.
·         Domain suasana hati
Kolokasi : pegel atine, anyel, gumun, bungah, meri.

2.      GENTA Edisi No. 149/Tahun VII/20 Juni - 04 Juli 2010 yang berjudul “Ndaru Ora Bisa Basa”
·         Domain Pendidikan
Kolokasi : bahasa Jawa, pelajaran, bahasa Inggris, kelas enem, nyinau, kelas, sregep, SMP, guru, disinau, bahasa Indonesia, krama inggil, dhosen, sekolah, kantor, nulis, aksara Jawa, nembang Jawa, ngoko, madya, kelas akalih, kelas tiga, SD, andhap asor, diwulang.
·         Domain Kekerabatan
Kolokasi : mbakyune, ibu bapak, pak puh, eyang, ibune, eyange, bupuh, bulik, paklik, mbake.
·         Domain bahasa Jawa
Kolokasi : basa Jawa, nulis aksara Jawa, nembang Jawa, ngoko, madya, krama, krama inggil, andhap asor.

3.      GENTA Edisi No. 152/Tahun VII/05-19 Agustus 2010 yang berjudul “Ipul Neng Endi?”
·         Domain Sifat
Kolokasi : isin, wedi, ngemong, rewel, kendel, anteng.
·         Domain Pendidikan
Kolokasi : sekolahan, sekolah, SD, sasekolahan, kelas telu, kelas siji, kelas loro, gurune, eSDe.
·         Domain Perasaan
Kolokasi : kawatir, taneg, seneng, anyel, jengkel, lega.
·         Domain kekerabatan
Kolokasi : adhine, ibune.

4.       GENTA edisi No. 150/Tahun VII/05 – 19 Juli 2010 yang berjudul “Susure Mbah Dul”
·         Domain Sifat
Kolokasi : mbethik, cengkre, clinthisan, dijaragi, getem-getem,mesakake, kemaki.
·         Domain Usia
Kolokasi : enom, tuwa
·         Domain Kekerabatan
Kolokasi: mbahe, anake, pake, yu.

5.      GENTA edisi No. 138/Tahun VI/5-19 Januari 2010 yang berjudul “Golekan Kayu Randhu”
·         Domain Sifat
Kolokasi : pengin, wani, menik-menik, apik, welas, nelangsa, tresna, alus, ayu.
·         Domain Pakaian
Kolokasi : klambi, pipihan jarit, dikembeni, slendhang.

·         Domain Perdagangan
Kolokasi : toko, pasar, dagangan, adol, tuku, bakul, murah, rega, dhuwit.
·         Domain Menimang
Kolokasi : nglela, ngudang, nggendhong, tangan
·         Domain kekerabatan
Kolokasi : simbah, kakang, adhine, bapak, ibu, anak.
·         Domain mulut
Kolokasi : gunem, ngguyu, diambungi, uni, diceluk, wangsulan.

6.      GENTA edisi No. 139/Tahun VI/20 Januari -04 Februari 2010 yang berjudul “Dondom Lumpang”
·         Domain kerajaan
Kolokasi : Sri Sultan, bebana, pidana, Gusti, kawula, taman sari,  kraton, punggawa kraton, prajurit, paduka
·         Domain jahit
Kolokasi : dondom, plintir, benang, njlumat.

7.      GENTA edisi No. 146/Tahun VII/05-19 Mei 2010 yang berjudul “Si Malin Kundang”
·         Domain maritim
Kolokasi : pesisir, segara, nahkoda kapal dagang, plabuhan, kapal, playaran, bajak laut, sakapal, kapal dagang, layar, angin barat.
·         Domain kekerabatan
Kolokasi : anak, bapake, bojo, ibu, mantu

8.      GENTA edisi No. 155/Tahun VII/20 September – 04 Oktober 2010 yang berjudul Artis Kethoprak.
·         Domain Pendidikan
Kolokasi : rengking, guru, SMP, SD, murid, kepala sekolah, mbiji, kelas papat.
·         Domain Bakat
Kolokasi: nari, main kethoprak, pinter pidato, juara badminton, wasis baca puisi, solahe luwes, prigel, gampang dilatih, lomba.
·         Domain Pentas Seni
Kolokasi : kethoprak, tari-tarian klasik
·         Domain Pentas Ketoprak
Kolokasi : lakon, penonton, artis, akting, skenario, panggung, nyandiwara.

D.  PRESENTASE KOLOKASI YANG BERUPA TABEL

Sajian tabel dibawah ini menjelaskan seberapa banyaknya peluang dari masing-masing domain yang sering digunakan oleh penulis dalam karyanya yang dimuat oleh majalah Genta.

No
Domain
Jumlah
Presentase
1
Kekerabatan
6
21%
2
Pendidikan
4
14%
3
Sifat
4
14%
4
Suasana hati
1
3,6%
5
Bahasa Jawa
1
3,6%
6
Usia
1
3,6%
7
Perasaan
1
3,6%
8
Pakaian
1
3.6%
9
Perdagangan
1
3,6%
10
Menimang
1
3,6%
11
Mulut
1
3,6%
12
Kerajaan
1
3,6%
13
Jahit
1
3,6%
14
Maritim
1
3,6%
15
Bakat
1
3,6%
16
Pentas seni
1
3,6%
17
Pentas kethoprak
1
3,6%

Total
28
99,4%


  1. KESIMPULAN

Dari pengamatan, pendataan dan analisis yang telah dilakukan terhadap delapan judul Wacan Bocah karya Surtikanti yang dimuat di majalah GENTA. Maka dapat disimpulkan bahwa :
1.        Wacan Bocah merupakan suatu wacana yang menjadi salah satu rubrik dalam majalah GENTA, dimana wacana tersebut ditujukan untuk bacaan anak-anak, maka pilihan kata dalam susunan kalimatnya mudah dipahami. Bahasa yang digunakan adalah bahasa tutur sehari-hari yang mudah diterima dan diterna oleh anak-anak atau pembacanya.
2.        Dalam pengamatan yang dilakukan kami menemukan beberapa sanding kata atau kolokasi didalam wacana tersebut. Kolokasi yang terdapat didalamnya pun juga berhubungan dengan tema wacana tersebut, seperti yang telah dipaparkan diatas. Dari kedelapan judul wacan bocah yang dianalisis dapat ditarik kesimpulkan sebagai berikut :
a.       GENTA Edisi No. 134/Tahun VI/05-19 November 2009 yang berjudul “Juara Kelas” terdapat 4 kolokasi diantaranya domain pendidikan, sifat, kekerabatandan suasana hati.
b.      GENTA Edisi No. 149/Tahun VII/20 Juni - 04 Juli 2010 yang berjudul “Ndaru Ora Bisa Basa” terdapat 3 kolokasi yaitu tentang pendidikan, kekerabatan dan bahasa Jawa.
c.       GENTA Edisi No. 152/Tahun VII/05-19 Agustus 2010 yang berjudul “Ipul Neng Endi?” terdapat 4 kolokasi diantaranya domain tentang sifat, pendidikan, perasaan, kekerabatan.
d.      GENTA edisi No. 150/Tahun VII/05 – 19 Juli 2010 yang berjudul “Susure Mbah Dul” ditemukan kolokasi sebanyak tiga buah yaitu yang domain tentang sifat, usia dan kekerabatan.
e.       GENTA edisi No. 138/Tahun VI/5-19 Januari 2010 yang berjudul “Golekan Kayu Randhu” banyak ditemukan kolokasi diantaranya domain tentang sifat, pakaian, pardagangan, menimang, kekerabatan dan mulut.
f.       GENTA edisi No. 139/Tahun VI/20 Januari -04 Februari 2010 yang berjudul “Dondom Lumpang” di dalamnya terdapat 2 kolokasi yaitu domain kerajaan dan jahit.
g.      GENTA edisi No. 146/Tahun VII/05-19 Mei 2010 yang berjudul “Si Malin Kundang” terdapat dua kolokasi yaitu domain maritim dan kekerabatan.
h.      GENTA edisi No. 155/Tahun VII/20 September – 04 Oktober 2010 yang berjudul Artis Kethoprak.”  Di dalamnya terdapat 4 kolokasi yang domainnya adalah pendidikan, bakat, pentas seni dan pentas kethoprak.



DAFTAR PUSTAKA

GENTA edisi No. 134/Tahun VI/05-19 November 2009
GENTA edisi No. 149/Tahun VII/20 Juni - 04 Juli 2010
GENTA edisi No. 152/Tahun VII/05-19 Agustus 2010
GENTA edisi No. 155/Tahun VII/20 September – 04 Oktober 2010
GENTA edisi No. 150/Tahun VII/05 – 19 Juli 2010
GENTA edisi No. 138/Tahun VI/5-19 Januari 2010
GENTA edisi No. 139/Tahun VI/20 Januari -04 Februari 2010
GENTA edisi No. 146/Tahun VII/05-19 Mei 2010
Sumarlam, dkk. 2009. Teori dan Praktik Analisis Wacana. Surakarta : Pustaka Cakra
www.google.com/ analisis wacana dri aspek leksikal, diakses 26 November 2011. 11.32 am